Siapa sih yg gak kepingin nikah?
Ya semua orang pasti ingin menikah dengan alasan merupakan salah satu ibadah dan kebutuhan. Sebagai makhluk sosial tentunya kita memiliki keinginan untuk berbagi.
Menikah pada dasarnya adalah menyatukan dua kepribadian dalam satu tujuan. Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya ditetapkan pada saat pedekate. Pada saat inilah proses pembelajaran dan adaptasi berlangsung. Ini penting lho bagi kita, cuz kalo udah terbiasa dan sepaham, insya Allah setelah menikah gejolak dan masalah dalam rumah tangga akan berkurang. Berikut beberapa wejangan yang insya Allah berguna.
1. Kenali pasangan
Yang dikenali bukan cuma pasangan kita aja, tapi juga keluarga dan pola kehidupan mereka. Hal ini menjadi sangat penting ketika setelah menikah. Dengan mengetahui pola dan kebiasaan hidupnya, kita dapat belajar dan memahami apa yang harus kita lakukan untuk antisipasi hal tersebut. Sebagai contoh, pasangan kita ternyata punya keluarga yang hobinya bepergian dan kita sebaliknya. Pada saat pedekate inilah kita menilai, “cocok gak sih gw sama keluarganya?”
2. Buatlah Suatu Konsep
Konsep di sini maksudnya semacam angan-angan atau gambaran kira-kira apa yang nantinya akan kita hadapi. Dalam pernikahan, suatu pasangan akan menjalani hidup bersama ibarat kereta api di atas relnya. Sang suami akan memimpin istri dan anak-anaknya. Jadi buatlah “gimana sih kalo nanti begini-begitu dan apa yang akan kita lakukan?”. Jangan lupa juga dalam perjalanan ini nantinya ada suatu proses atau tahapan baku–rat race–semisal setalah menikah, beli rumah, punya anak, anak sekolah, dsb. Semua proses ada baiknya dibuatkan konsepnya bersama-sama.
3. Pilih Mana?
Sebelum menikah, pilih baik-baik terutama bagi pasangan yang kondisi ekonominya menengah ke bawah, apakah kita atau pasangan memiliki keinginan tertentu? Coba kita renungkan atau pilihlah sebelum nikah, misalnya mau punya rumah dulu, lanjutkan kuliah, atau ingin punya mobil? Hal ini nantinya akan berdampak tidak hanya ke satu anggota keluarga saja. Bayangkan jika pasangan kita atau dua-duanya ternyata bekerja di luar kota, padahal sudah memiliki seorang bayi. Apa yang kita pikirkan? Tentu akan bilang “ah, gampang kan nanti ada pembantu atau neneknya” Sungguh pemikiran semacam ini harus dibuang jauh-jauh. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti, jadi setidaknya memikirkan antisipasi lebih baik dibandingkan tidak sama sekali, apalagi kalau pake prinsip “gimana nanti aja“, harap dibuang jauh-jauh.
4. Kesehatan
Ini salah satu faktor yang penting sekali dan memiliki cakupan yang luas. Kesehatan memegang peranan penting bagi kelangsungan hidup dan keberlangsungan garis keturunan. Kita memang tidak dapat menentukan harus sehatnya seseorang, tapi paling tidak dapat diantisipasi dengan–lagi-lagi–pilihan ekstrim, akankah hubungan ini berlanjut atau hanya sampai di sini saja sebelum mencapai jenjang pernikahan? Wah, menurut saya ini pilihan yang menyakitkan bagi kedua pihak. Tapi bagi yang suka ekstrim hal ini dapat dipertimbangkan.
Mungkin segitu dulu sharing-nya, nanti lanjut lagi. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda, terutama yang akan menikah.

nais info… #ga tau musti bilang apa lg.. ngena bgt sarannya…
Makasih. Masa sih ngena banget? Kena di bagian mana, ulu hati, perut, atau dengkul #eh
)
um kayanya semuanya,, berfikir soal menikah namun tanpa perencanaan,, semua d fikirkan sendiri” akhirnya,rencana apa yg akan terjadi, jd bukan menyatukan 2 supaya mnjadi 1 kesatuan yg ada pemikiran nya yg menjd 2,
alhamdulillah semua berakhir sebelum terlambat